Menilik gestur Jokowi saat Budi Arie singgung pemilu lebih cepat dari 2029, pengamat: Tidak nyaman
Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menanggapi gestur dan sikap mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam potongan video viral yang menampilkan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, saat menyinggung soal Pemilihan Umum atau Pemilu lebih cepat dari 2029.
Diketahui, dalam video yang belakangan beredar, terlihat Budi Arie tengah berbicara di sebuah forum dan mengajak audiensnya untuk tidak terpaku pada skenario politik konvensional menuju Pemilu 2029.
Dengan nada serius, ia menyinggung soal insting politiknya mengenai kemungkinan adanya percepatan Pemilu yang juga sudah disampaikan kepada Jokowi.
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" kata Budi Arie, yang langsung dijawab seruan "Siap!" dari audiens.
Lebih jauh, Budi Arie mendeskripsikan kondisi masyarakat saat ini sebagai sebuah anomali.
Ia lantas membandingkan dinamika sosial dan ekonomi saat ini dengan patahan sejarah pada masa transisi Orde Baru ke Reformasi tahun 1997-1999.
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun '97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya '99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy," ucap Budi Arie.
Tak hanya pernyataan Budi Arie, tetapi gestur mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang duduk di sebelahnya juga jadi sorotan.
Dalam video, terlihat Jokowi hanya diam tak berkata apa-apa saat relawan garis kerasnya tersebut membahas insting tentang percepatan Pemilu.
Belakangan terungkap, forum yang dihadiri Jokowi dan Budi Arie itu adalah acara silaturahmi dalam rangka Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia antara ayah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dengan para relawan, sebagaimana diungkap Sekretaris Jenderal DPP Projo, Freddy Alex Damanik.
3 Gestur Jokowi Disorot
Efriza menyoroti tiga gestur Jokowi saat Budi Arie mengatakan soal insting percepatan Pemilu dari 2029, yakni terlihat tegang, meminum teh dari cangkir di hadapannya, dan menundukkan kepala.
Menurut Efriza, hal tersebut melambangkan bahwa Jokowi menilai pernyataan Budi Arie offside alias sudah kelewatan.
"Kalau kita lihat, dalam beberapa gesturnya. Pertama, Pak Jokowi tampak sekali ia tegang. Kedua, sampai ia harus minum teh. Ketiga, menundukkan kepala," ujar Efriza dalam program On Focus yang diunggah di kanal YouTube Tribunnews, Kamis (27/8/2026).
"Ia menyatakan, apa yang dilakukan Budi Arie itu offside, dan tidak respek Pak Jokowi."
Efriza juga menilai pernyataan Budi Arie itu juga mengesankan sikap tidak hormat kepada suami Iriana yang menjabat Presiden RI ke-7 pada 2014-2019 dan 2019-2024.
Sebab, Jokowi bagaimanapun terpilih sebagai RI1 secara sah dan demokratis.
"Karena, bagaimanapun, suka tidak suka, hadirnya beliau ini sebagai pemimpin yang berdasarkan reformasi, sebagai pemimpin yang didukung oleh konstitusi," tutur Efriza.
"Walaupun setelah dua periode perilakunya agak nyeleneh, namun ia tetap mengedepankan hal tersebut. Apalagi Prabowo-Gibran adalah usungannya."
Lalu, Efriza menyoroti sikap diam Jokowi yang menurutnya sesuai dengan latar belakang budaya sebagai orang Jawa, yang dianggap tidak blak-blakan menunjukkan emosi.
"Maaf ini bukan sarkas atau persepsi menjelekkan suku, tetapi kalau lihat dari gaya politik dan kulturnya Pak Jokowi, tampak sekali Pak Jokowi pada dasarnya tidak akan frontal menunjukkan ketidaksukaannya dan kemudian ia langsung marah-marah," jelas Efriza.
"Itu bukan tipikal Pak Jokowi."
Lebih lanjut, Efriza menilai Jokowi terlihat tidak nyaman berada di dekat Budi Arie.
Sehingga, kemungkinan Jokowi berpikir akan harus lebih berhati-hati saat bersama Projo, lantaran pentolan kelompok relawan itu sudah membuat kegaduhan.
Bahkan, menurut Efriza, pernyataan Budi Arie bisa mengganggu misi Jokowi mengusung Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.
"Dengan menundukkan kepala atau meminum teh, kemudian tampak sekali kaku, itu menunjukkan ketidaknyamanan berada bersama Budi Arie," papar Efriza.
"Bisa jadi, Projo mulai dipikirkan oleh Pak Jokowi, untuk lebih berhati-hati kehadiran Pak Jokowi bersama dengan Projo."
"Karena tadi dasarnya adalah Projo offside, membuat kegaduhan, dan Projo tidak nyaman bagi keinginan Pak Jokowi; Prabowo Gibran dua periode bisa dikatakan mengalami patahan akibat dari pernyataan Budi Arie itu sendiri."
Budi Arie Minta Maaf
Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi meminta maaf buntut pernyataannya yang menyebut adanya potensi percepatan Pemilu 2029.
Adapun pernyataannya itu viral melalui sebuah potongan video dalam sebuah forum yang turut dihadiri oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Di sisi lain, pernyataannya itu pun memicu berbagai kritik dari berbagai pihak.
"Sehubungan dengan viralnya pernyataan dan analisa saya dalam sebuah pertemuan di Jakarta baru-baru ini, yang menimbulkan spekulasi dan berbagai salah penafsiran, saya Budi Arie Setiadi memohon maaf bagi pihak-pihak yang kurang berkenan dan nyaman dengan pernyataan saya tersebut," katanya dalam sebuah video yang diterima Tribunnews.com redaksi Solo, Jawa Tengah, Kamis (26/8/2026).
Budi Arie menegaskan bahwa pernyataannya tersebut bukanlah sikap resmi dari Projo, tetapi merupakan analisis pribadi.
Lalu, dia juga mengungkapkan bahwa pernyataannya itu tidak berkaitan dengan Jokowi.
"Saya ingin menyampaikan bahwa pernyataan dan analisa tersebut merupakan pernyataan dan analisa pribadi saya."
"Lalu pernyataan tersebut tidak ada hubungan dan mengkaitnya dengan Bapak Joko Widodo," tegasnya.
Budi Arie juga mengaku siap menerima konsekuensi apa pun buntut dari pernyataannya tersebut.


0 Response to "Menilik gestur Jokowi saat Budi Arie singgung pemilu lebih cepat dari 2029, pengamat: Tidak nyaman"
Posting Komentar