Pasang Iklan Gratis

Paradoks terbesar perang Ukraina: semakin berlangsung, kian sulit mengabaikan Putin

  Empat tahun lebih perang Ukraina telah mengubah wajah geopolitik dunia. Ketika tank Rusia melintasi perbatasan pada Februari 2022, banyak pihak meyakini konflik ini akan berakhir dengan cepat. Sebagian memperkirakan Rusia akan menaklukkan Ukraina dalam hitungan minggu. Sebagian lain percaya sanksi ekonomi Barat akan segera melumpuhkan Kremlin dan memaksa Presiden Vladimir Putin mundur. Kenyataannya, kedua prediksi itu meleset.

Hari ini perang masih berlangsung. Ribuan nyawa telah hilang. Kota-kota hancur. Triliunan dolar telah terkuras. Namun satu pertanyaan yang dahulu dianggap tabu kini mulai terdengar semakin sering di ibu kota-ibu kota Eropa: apakah perang ini pada akhirnya dapat diakhiri tanpa berbicara dengan Vladimir Putin?

Pertanyaan tersebut menandai perubahan psikologis yang penting. Selama bertahun-tahun, strategi utama Barat adalah mengisolasi Putin secara politik, ekonomi, dan diplomatik. Kini, sebagian kalangan mulai mengakui bahwa mengakhiri perang mungkin memerlukan sesuatu yang selama ini dihindari: negosiasi langsung dengan Kremlin.

Pandangan ini tercermin dalam tulisan Sylvie Kauffman di Le Monde. Menurutnya, Eropa mulai memasuki fase baru. Bukan karena mereka mempercayai Putin, melainkan karena mereka memahami bahwa setiap perang pada akhirnya berakhir di meja perundingan. Bagi Kauffman, pertanyaannya bukan lagi apakah Eropa harus berbicara dengan Putin, melainkan siapa yang akan berbicara, untuk tujuan apa, dan dari posisi kekuatan seperti apa.

Pandangan tersebut lahir dari perubahan situasi di lapangan. Ukraina memang belum berhasil mengusir Rusia dari seluruh wilayah yang diduduki. Namun Ukraina juga tidak runtuh seperti yang diprediksi banyak pihak pada awal perang. Dukungan finansial dan militer Eropa membuat Kyiv tetap bertahan. Bahkan dalam beberapa aspek teknologi militer, Ukraina mampu memberikan tekanan yang tidak kecil terhadap Rusia.

Di sisi lain, Rusia juga tidak tampil sebagai pemenang mutlak. Ekonomi Rusia memang masih bertahan, tetapi harus menanggung biaya perang yang sangat besar. Mobilisasi militer yang berkepanjangan menguras sumber daya dan menciptakan tekanan sosial yang terus meningkat. Rusia belum kalah, tetapi kemenangan yang cepat dan menentukan juga tidak pernah datang.

Di sinilah analisis Hakki Ocal menjadi menarik. Ia menggunakan metafora "jalur penyelamat truk" yang tersedia bagi kendaraan yang kehilangan kendali di jalan menurun. Menurutnya, Putin membutuhkan jalur semacam itu. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar energi politik, ekonomi, dan sosial yang harus dikeluarkan Rusia. Pada titik tertentu, bahkan negara yang kuat pun membutuhkan jalan keluar yang terhormat.

Ocal tidak melihat Putin sebagai pemimpin yang sedang menuju kemenangan besar. Sebaliknya, ia menggambarkan Kremlin sebagai pengemudi yang harus segera menemukan jalur pelarian sebelum kerusakan yang lebih besar terjadi. Dalam pandangan ini, tantangan terbesar Putin bukan hanya memenangkan perang, tetapi mengakhiri perang tanpa kehilangan muka di hadapan publik Rusia.

Namun tidak semua pengamat menerima asumsi bahwa Rusia sedang menuju titik lemah. Tarik Cyril Amar menawarkan kritik yang sangat berbeda. Menurut sejarawan yang berbasis di Jerman tersebut, Barat selama ini terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai "Russophrenia", kondisi ketika Rusia secara bersamaan digambarkan sebagai negara yang hampir runtuh sekaligus ancaman eksistensial bagi seluruh Eropa.

Dalam narasi Barat, Rusia sering kali digambarkan sedang mengalami kehancuran ekonomi, kekurangan sumber daya, dan menghadapi krisis internal. Namun pada saat yang sama, Rusia juga disebut siap menyerbu negara-negara NATO dan mengguncang keamanan seluruh benua. Bagi Amar, dua narasi tersebut sulit dipertahankan secara logis pada saat yang bersamaan.

Kritik Amar tidak sepenuhnya ditujukan kepada pemerintah Barat. Ia juga menyasar media dan komunitas analis yang menurutnya terlalu sering membangun gambaran hiperbolik tentang Putin. Dalam pandangannya, ketakutan yang terus-menerus diproduksi terhadap Rusia justru membuat Barat kehilangan kemampuan membaca realitas secara jernih.

Perbedaan tajam antara Ocal, Amar, dan Kauffman sesungguhnya memperlihatkan satu fakta penting: tidak ada lagi konsensus yang utuh mengenai bagaimana perang ini akan berakhir. Dulu narasinya sederhana. Rusia menyerang, Ukraina bertahan, Barat membantu, dan suatu hari Rusia akan dipaksa mundur. Kini realitas jauh lebih rumit.

Rusia tidak tumbang. Ukraina tidak menyerah. Barat tidak mampu memaksakan penyelesaian. Tidak ada pihak yang memperoleh kemenangan mutlak. Yang muncul justru perang berkepanjangan yang terus menggerus semua pihak.

Di titik inilah ketiga tulisan tersebut bertemu. Baik Ocal, Amar, maupun Kauffman pada dasarnya sedang berbicara tentang keterbatasan strategi yang selama ini ditempuh. Ocal melihat keterbatasan Rusia untuk terus berperang tanpa akhir. Amar melihat keterbatasan Barat dalam memahami Rusia. Kauffman melihat keterbatasan pendekatan isolasi diplomatik terhadap Kremlin.

Ketiganya berbeda dalam diagnosis, tetapi mengarah pada kesimpulan yang sama: perang telah memasuki fase baru.

Fase ini ditandai oleh munculnya kesadaran bahwa kemenangan total semakin sulit dicapai. Ukraina tidak cukup kuat untuk memaksa Rusia menyerah. Rusia juga tidak cukup kuat untuk memaksakan seluruh tuntutannya. Sementara Barat menghadapi keterbatasan politik, ekonomi, dan sosial untuk terus mempertahankan tingkat dukungan yang sama selama bertahun-tahun.

Situasi semakin kompleks karena muncul faktor Donald Trump. Banyak pemimpin Eropa khawatir Washington suatu hari dapat menyusun kesepakatan sendiri dengan Moskow tanpa melibatkan sekutu-sekutunya. Kekhawatiran inilah yang mendorong sebagian kalangan Eropa mulai membangun jalur diplomasi mereka sendiri.

Di balik semua perdebatan tersebut terdapat satu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Vladimir Putin tetap menjadi aktor utama dalam perang ini. Ia bukan satu-satunya aktor, tetapi tidak ada skenario penyelesaian yang realistis tanpa keterlibatan Rusia dan pemimpinnya.

Inilah paradoks terbesar perang Ukraina. Semakin lama perang berlangsung, semakin banyak pihak yang ingin mengurangi pengaruh Putin. Namun semakin lama pula, semakin jelas bahwa setiap upaya mengakhiri perang justru harus memperhitungkan Putin sebagai bagian dari solusi.

Hal ini bukan berarti Putin menang. Tidak juga berarti Ukraina kalah. Ini adalah pengakuan terhadap realitas geopolitik yang keras: perang besar jarang berakhir melalui kemenangan absolut salah satu pihak. Lebih sering, perang berakhir ketika semua pihak menyadari bahwa biaya melanjutkan konflik lebih besar daripada manfaat yang mungkin diperoleh.

Empat tahun setelah perang dimulai, dunia tampaknya semakin mendekati titik kesadaran tersebut. Jalan menuju perdamaian mungkin masih panjang dan berliku. Namun satu hal mulai terlihat jelas.

Setelah melewati sanksi, isolasi, perang informasi, bantuan militer, dan berbagai manuver diplomatik, semua jalan pembicaraan mengenai akhir perang Ukraina pada akhirnya kembali mengarah ke Moskow. Dan di sana, masih ada satu nama yang tidak dapat diabaikan: Vladimir Putin.

0 Response to "Paradoks terbesar perang Ukraina: semakin berlangsung, kian sulit mengabaikan Putin"

Posting Komentar