Pasang Iklan Gratis

Kolaborasi minimalkan risiko bencana di ujung negeri

 Bulan-bulan berakhiran ber kembali membawa cuaca berat bagi Natuna. Hujan turun berkepanjangan, angin menguat, dan gelombang tinggi menjadi ancaman yang selalu menguji kesiapan daerah yang berdiri kokoh di ujung utara Indonesia.

Pada pekan terakhir November 2025, intensitas hujan meningkat tajam. Air yang tertahan di cekungan-cekungan di lereng gunung dan bukit meluap pelan, lalu tumpah tanpa jeda seiring curah hujan yang terus mengguyur.

Debit air yang semakin besar membuat saluran alami tidak mampu menampung arus dan diperburuk dengan pasangnya air laut. Sungai-sungai kecil kehilangan kapasitas, dan sebagian air keluar dari jalur. Dalam hitungan jam, sejumlah titik di Pulau Bunguran Besar, Kabupaten Nautna, tergenang.

Kecamatan Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut menjadi wilayah paling terdampak. Meski tidak ada korban jiwa, aktivitas warga tersendat. Puluhan rumah dikepung air, sementara sejumlah warga harus dievakuasi menggunakan perahu karet menuju lokasi aman.

BPBD dan Kantor SAR Natuna bergerak cepat. Mereka sepakat membangun posko siaga darurat bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem untuk menyatukan koordinasi, memastikan tidak ada keterlambatan ketika cuaca kembali memburuk.

Langkah itu juga sejalan dengan imbauan Kementerian Dalam Negeri melalui surat edaran pertengahan November. Pemerintah pusat meminta seluruh daerah meningkatkan kesiapsiagaan serta mempercepat respons menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Surat itu menegaskan ancaman cuaca ekstrem semakin meningkat. BMKG mencatat potensi banjir, hujan ekstrem, angin kencang, longsor, gelombang tinggi, hingga abrasi dalam beberapa pekan ke depan, dipengaruhi dinamika atmosfer yang terus berubah.

Posko Siaga

Menyadari peringatan tersebut, seluruh pemangku kepentingan di Natuna ikut mengerahkan kekuatan. TNI, Polri, lembaga vertikal, relawan, hingga dinas daerah turun menyiapkan dan menyiagakan personel serta peralatan sesuai tugas masing-masing di kantor sendiri serta di posko siaga darurat.

PLN ULP Natuna turut bersiaga. Mereka memperketat patroli jaringan, memantau potensi gangguan dari pohon tumbang, tiang miring, atau terpaan angin kuat yang mengancam pasokan listrik ke permukiman dan fasilitas penting.

Kepala Pelaksana BPBD Natuna mengata posko siaga didirikan pada Sabtu (29/11) di kawasan Pantai Piwang. Lokasi itu dipilih karena strategis, mudah dijangkau, dan dekat dengan wilayah padat penduduk yang sering menjadi titik awal laporan kejadian bencana.

Tenda-tenda besar berdiri menghadapi terpaan angin laut. Warna biru TNI AU, oranye Basarnas, krem BPBD, dan abu-abu Polri berjajar rapi, memperlihatkan kesiapan semua pihak menghadapi musim ekstrem yang mulai bergerak menuju puncaknya.

Di dalam tenda Basarnas, papan informasi besar terpajang. Peta titik rawan bencana diberi tanda jelas, lengkap dengan daftar peralatan dan kemampuan personel setiap instansi, agar koordinasi berjalan cepat saat keadaan genting.

Meja-meja kerja tersusun rapi di tenda BPBD. Beberapa dilengkapi komputer dan radio komunikasi, sementara meja lainnya digunakan untuk rapat kilat ketika laporan masuk tanpa memberi jeda bagi para petugas.

Masih di tenda BPBD tepatnya di bagian tengah hingga ke belakang tempat tidur lipat ditata rapi. Para petugas beristirahat bergiliran, karena cuaca ekstrem tidak mengenal waktu. Posko harus tetap aktif dua puluh empat jam penuh, menjaga ritme kesiapsiagaan tetap terjaga.

Di bagian luar tenda, kendaraan taktis, mobil evakuasi, sepeda motor patroli, serta perahu karet diletakkan di jalur cepat. Semua diposisikan agar siap digunakan dalam hitungan menit saat perintah turun.

0 Response to "Kolaborasi minimalkan risiko bencana di ujung negeri"

Posting Komentar